…PROLOG…
Sudah dua tahun lamanya namun tidak ada yang
berubah dari tempat ini, seorang wanita yang bertubuh tinggi langsing dan berambut panjang
terurai dengan wajah yang teduh, memandang sebuah taman kecil.
menatap ini semua membuat
wanita itu menjadi mengingat sebuah kenangannya dahulu ketika pertama kali
mengenalnya, seorang pria yang sungguh di kaguminya hingga membuatnya tampak
bodoh, menunggu sebuah kepastian yang tak jelas ujungnya, bahkan tidak sedikit
pun ia menggubris
rasa ingin tahuku akan sosoknya, dia (pria itu) begitu dingin dan kasar bahkan
pemarah namun sebetulnya ia sangat kesepian dan lemah, hal itulah yang membuatku
ingin mengenalnya walau begitu banyak sesuatu yang tersimpan dalam fikirannya,
seolah kehidupannya hanya dia seorang yang tahu.
Wanita itu melihat gundukan tanah merah yang telah ditumbuhi rerumputan hijau, ia tersenyum kecil dan
mengambil selembar foto dari tasnya. Kenangannya melayang ke saat-saat SMA dulu, delapan anak yang terdiri dari 4 anak wanita
dan 4 anak laki-laki berfose dibalai kesenian saat mengikuti lomba puisi, semua
tertawa penuh kegembiraan hanya sepasang mata teduh dari sosok anak laki-laki
berbadan putih tegap yang menatap kamera dengan tegas dan serius.
“Dasar orang bodoh” (gumam hati kecil wanita
itu).
Setelah usai
memandangi selembar foto itu, ia membuka folder lama di HP-nya, di pandanginya
sejumlah foto ketika berlibur ke pantai di daerah Jogja bersama teman-temannya,
semua yang ada di foto itu terlihat sangat senang dan bahagia tidak terkecuali
sahabatku yang memakai kaca mata yang berdiri di sampingku.
Salah seorang temanku bahkan ada yang masih mengenakan
sarung ketika foto itu di ambil, ada pula yang sok bergaya foto model, dengan gaya sok-cool tidak menatap
lensa kamera seolah-olah tidak tahu bahwa gambar dirinya telah diambil. Begitu
banyak tawa dan canda saat itu, kebahagiaan dan kebersamaan begitu kental
terasa.
Setelah puas mengenang dengan foto-foto lama, aku
mengeluarkan sebuah liontin dengan inisial huruf “V”, terlihat di liontin itu
ada foto dirinya bersama pria yang sangat di cintainya, yang membuatnya tampak
bodoh masih saja menunggu.
Ia memejamkan matanya di bawah terik matahari dan
hembusan angin dari pohon rindang di sebelahnya, membayangkan saat-saat mereka
bersama, andai waktu berhenti sejenak ketika melewati detik demi detik
bersamanya……
SATU
“Teh… teh Caci…” . Terdengar suara Ima memanggil Caci
yang tengah bersiap didepan cermin untuk segera berangkat ke sekolah.
“Ada
apa Ima?”
“Teteh di panggil ibu tuh, untuk sarapan pagi”
“Iya… tunggu sebentar ya…”.
Nama ku Sezheci Percia, sedikit bingung ya
dengan nama ku?
Jika ditanya apa artinya aku juga tidak tahu karena
ketika membuat nama itu aku masih bayi yang tidak mengerti apa-apa, hhee…
agar mudah memanggil ku ibu menyingkat nama ku menjadi
Caci dan aku sangat suka dengan nama ku karena saat orang mendengar nama ku
pasti banyak yang mengerutkan kening, hheee
tapi jika mengingat ibu aku sedikit sedih membayangkan
beberapa tahun silam yang merenggut nyawa kedua orang tua ku.
Saat itu aku
baru berusia delapan tahun ketika orang tua ku mengajak liburan ke daerah
bogor, hari yang indah berubah menjadi sore yang kelam, hujan terus mengguyur kota bogor membuat
jalan menjadi licin dan mobil yang kami tumpangi tergelincir, naas mobil itu
jatuh ke jurang. Namun dalam kecelakaan teragis itu aku selamat karena ku
tengah tertidur tanpa sabuk pengaman di bangku belakang, namun nyawa kedua
orang tuaku tidak dapat terselamatkan, aku terus menangis diantara kerumunan
saksi mata yang datang mengrubung di tempat kejadian perkara tubuh mungil ku
yang basah karena guyuran hujan juga terasa sangat perih dan sakit karena aku
mengalami luka-luka di seluruh tubuh dan meninggalkan bekas luka di lutut ku
hingga saat ini.
Sejak
kejadian itu aku di asuh dan di rawat oleh nenek ku yang rentan yang tinggal di
kota Bandung, nenek merawat dan membesarkan ku seperti merawat anaknya sendiri,
aku menamatkan sekolah dasarku di Bandung dan ketika SMP aku kembali tinggal di
Jakarta, aku melewati masa-masa remaja ku bersama tanteku adik dari ibu ku dan
sekaligus saudara yang aku punya, saat itu tante ku yang bernama tante Bebie
baru menikah dan belum memiliki anak, mereka begitu senang dengan kehadiran ku
karena usaha yang di rintis oleh om Hans berubah menjadi sebuah Cafe yang ramai
dan tahun berikutnya tante Bebie di karuniai seorang putri yang bernama Risma
Putri Hans (Ima), selang beberapa tahun tante Bebie melahirkan lagi, namun kali
ini kebahagian om Hans terasa begitu lengkap karena beliau memiliki dua jagoan
sekaligus atau tepatnya seorang putra kembar yang di beri nama Rizky Putra Hans
(Kiki) dan Criski Putra Hans (Iki).
kini aku baru
berusia 16 tahun, aku duduk di bangku kelas dua SMA, SMA BUDI PEKERTI sebuah SMA
yang cukup favorit dan tidak sebagian murid yang bersekolah disini adalah anak
pejabat dan banyak juga para artis atau model yang bersekolah disini, awal-nya
aku sedikit minder karena banyak dari
mereka yang pulang pergi menggunakan mersi atau mobil-mobil mahal keluaran
terbaru sedang aku hanya menggunakan bajaj atau kopaja, walau aku tahu semua
yang mereka pamerkan hanyalah kekayaan orang tua mereka. Tetapi aku melihat
tante dan om ku yang bekerja keras hanya demi aku yang bukan darah dagingnya,
hal itulah yang memicu semangat ku untuk berprestasi di sekolah agar mereka
bangga dan tidak kecewa pada ku.
Aku segera
menuruni anak tangga dan menghampiri tante ku yang tengah sibuk menyiapkan
sarapan pagi di meja makan sambil menggendong Iki adik kembar Kiki, dan Ima
yang mengenakan seragam TK-nya tengah menikmati segelas susu cokelat hangat.
“Tante manggil aku?”
“Iya, tolongin tante ya Ci, nanti setelah pulang sekolah
kamu tolong
mampir ke tukang
jahit milik keluarga Fikri, beberapa waktu yang
lalu tante jahit
baju disana dan nanti tolong kamu ambil”
“Oh… oke tante”
“Oy… Ci tante minta tolong lagi ya, tante sibuk banget
musti ke cafe,
jadi habis dari
tempat jahit baju kamu tolong belanja untuk bulan
ini ya di
supermarket di depan komplek?”
“Owh… sip tante, terus yang jaga Iki sama Kiki siapa?”
“Ya mau enggak mau tante ajak mereka berdua ke cafe”
“Aku mau izin aja dech, bantuin tante sama om biar
enggak terlalu repot”
“Eh… enggak boleh..!!! kamu harus tetap pergi sekolah,
udah jangan
banyak mikir
sana jalan, ini uang jajan kamu”
Aku terdiam
sesaat sebelum memasukan uang ku ke saku ku.
“Ada
apa Caci?”
“Kok uang jajan aku banyak amat, ini lebih sepuluh
ribu?”
“Enggak apa-apa kan
hari ini tante banyak minta tolong, sekarang cepat
jalan nanti kamu
sama Ima telat lagi”
Aku hanya
tersenyum kecil sebelum berpamitan sambil melihat uang jajan ku yang sedikit
bertambah hari ini. Karena letak TK Ima dan sekolah ku searah jadi setiap pagi
aku dan Ima pergi bersama dengan menggunakan bajaj dan tentu Ima sampai lebih
dahulu di banding aku mungkin hal inilah yang membuat tante dan om merasa aman
tidak harus mengantar Ima setiap pagi, sampai-sampai sopir bajajnya sudah hafal
aku dan Ima berhenti dimana.
“Wets… baru
dateng sob?
Loe tau enggak
pagi ini gue udah malakin anak-anak kelas satu, gila
tajir-tajir
banget anak kelas satu yang sekarang beda sama yang dulu”
Tetapi Beni
tidak menjawab ucapan Edric, justru matanya sedang terpanah pada sesuatu yang
berjalan menyusuri taman sekolah.
“Wah… konyol loe sob… gue ngomong dikacangin, liatin apa
sih loe?”
dan Beni pun baru tersadar telah mengacuhkan
sahabat karibnya itu yang dari tadi telah berbicara sejak Beni
datang.
“Hhaaa… sorry dech sob…
lagian loe, gue baru dateng udah ngoceh aja kaya
burung beo”.
“Seh… pagi-pagi udah nyari
masalah…. Gue tahu sob apa yang bikin elo
dari tadi nyuekin gue, loe liatin Caci yang
baru turun dari bajaj kan ?
gue tau lagi sob elo suka kan sama dia dari dulu?”
“Ah…!! Apa-apaan sih loe… jangan ngaur dech pagi-pagi, enggak mungkin
gue
suka sama cewek kaya gitu yang pulang pergi cuma naik bajaj
sekolah aja ngandelin Beasiswa”.
“Loe yakin sob sama apa
yang loe omongin?”
“Iyalah…. Udah ahh…! Enggak
penting bahas cewek itu pagi-pagi, cabut
ke kelas yu! Belum buat PR nich gue…”
Beni Putra Julius atau sering di panggil
Ben, Ben ini adalah putra seorang pengacara yang tengah melambung namanya
karena berhasil menjebloskan seorang pengusaha ke jeruji besi dengan tuduhan
pembunuhan. Mungkin Ben bangga dengan segudang prestasi ayahnya, tapi apa
ayahnya bangga dengan prestasi anaknya yang tidak lebih hanya seorang preman
sekolah, yang hobinya malak, tidur di kelas, tauran dan masih banyak lagi yang
pastinya meresahkan pihak sekolah padahal saat ini Ben sudah kelas 12 atau
tepatnya kelas 3 SMU tentu harusnya Ben lebih fokus dengan UAN dan tidak
mengurusi hal-hal yang tidak penting seperti itu, hal ini tentu timpang sekali
dengan ayahnya yang seorang penegak hukum sedang anaknya adalah preman sekolah.
Sedangkan pihak sekolah bungkam atas segala ulah dari Ben, bisa di bilang
sedikit enggak adil, ya… apa lagi coba yang membuat enggak adil kalau bukan
karena status ayahnya yang seorang pengacara.
“Eh… Caci baru datang?”
Fini menyambut hangat kedatangan teman
sebangkunya yang sekaligus sahabat karibnya, selain Fini adalah sahabat dekat
Caci, Fini yang berkaca mata tebal ini juga paling jago kalau disuruh menghafal
rumus-rumus Fisika, nyaris semua rumus dia hafal di luar kepala.
“Iya nich… untung hari ini
enggak telat”
“Tadi naik bajaj atau naik
kopaja?”
“Naik bajaj Fin, kan
sekarang gue bareng sama Ima terus, enggak mungkin
naik kopaja”
“Oh… iya bahaya juga
kalau bareng Ima naik kopaja”.
Ketika kami tengah menggobrol tiba-tiba
Muhammad Fikri (Fikri) dan Aldo Adiyatna (Ado )
baru saja datang dan langsung duduk di bangku paling belakang atau tepatnya
duduk dibelakang Caci dan Fini.
“Fin… nanti jangan pelit ya
pas ulangan Fisika, gue enggak belajar
sama sekali nich” ucap Fikri memohon pada
Fini.
“Haahhh… memang ada ulangan
Fisika???”
Caci dan Ado sedikit bersamaan dan sedikit
kaget, sedangkan Fini hanya tertawa kecil.
“Fikri-Fikri kapan sih
sifat pelupa loe bisa sembuh”.
“Maksudnya Fin…?”
“Kita memang ada ulangan
Fisika tapi lusa bukan hari ini, hari ini
mana ada pelajaran Fisika”
“Haa??? serius loe….Gue
salah bawa buku pelajaran dong” Fikri melonggo kaget.
Kami semua tertawa bersama inilah para
sahabat ku, ada Fini yang jago banget dalam pelajaran Fisika nyaris semua yang
berbau Fisika pasti dia tahu, sedangkan Ado dia paling jago kalau disuruh main
futsal selain itu sahabat ku yang satu ini sangat alim dia juga sangat aktif
dalam kegiatan sosial dan keagamaan di sekolah ku, nah… kalau Fikri jangan di
tanya pasti semua udah pada bisa tebak…… yup…sahabat ku yang satu ini sangat
pelupa dan sedikit pikun contohnya kaya tadi tuh… salah bawa buku pelajaran ini
sering dia lakuin jadi kita semua udah maklum, tapi kalau di suruh nyulam
jangan di tanya Muhammad Fikri jagonya mungkin karena di keluarganya hanya dia
dan ayahnya yang laki-laki sisa-nya kakak dan adik-adik-nya prempuan semua,
mungkin karena ibunya adalah seorang penjahit jadi mau enggak mau dia harus
bisa, jika sewaktu-waktu dia menggantikan pekerjaan ibunya sebagai penjahit. Apapun
itu aku bangga dengan para sahabat ku.
Kami duduk di bangku dua dari belakang
tempat yang paling pas untuk kami karena bangku-bangku paling depan telah
dihuni oleh kalangan-kalangan yang hobi-nya paling pamer kekayaan orang tuanya,
kami berempat juga telah biasa mendapat hinaan dari mereka semua, dan tak ada
satu orang pun dikelas ini yang mau bicara pada kami berempat.
dan inilah kami berempat
yang tersesat diantara ketidak adilan dan keglamouran orang-orang yang
menganggap satu sama lain berbeda dan dirinya yang paling sempurna bahkan satu
sama lain dapat saling menusuk dan menjatuhkan, inilah masa-masa SMA yang harus
kami lalui.
Hari ini tidak ada yang menarik disekolah
semua datar pelajaran sekolah juga biasa saja dan hitungan detik bel sekolah pun
berbunyi hari ini bel sekolah sepertinya diganti tidak seperti kemarin bunyinya
seperti tukang es, hhii… tapi tak biasanya juga aku memperhatikan bunyi bel
seperti apa.
“Oya Fik… hari ini gue
pulang bareng ya?”
“Tumben Ci?”
“Iya… gue disuruh ambil
jahitan baju di tempat nyokap loe”
“Okelah… jadi punya temen
pulang” aku dan Fikri pun melambai pada Fini dan Ado pertanda kami pulang terlebih dahulu.
Rumah Fikri memang dekat dari sekolah
setiap pergi sekolah dia memang selalu berjalan kaki maka dari itu siang hari
ini kami juga berjalan kaki untuk menuju tempat jahit ibunya yang sekaligus
rumah untuk keluarga Fikri, dahulu tempat jahit ibunya hanyalah sebuah tempat
jahit yang sempit, karena keterampilan ibunya akhirnya keluarga Fikri
merenofasi usaha keluarganya ini bahkan kini keluarganya telah dapat memiliki
dua orang karyawan, karena banyak yang mempercayai baju-baju mereka dijahit,
diperbesar, atau segala macam vermak disini bias, tetapi hanya vermak wajah
disini yang tidak ada, hheee
Dan saat ini tempat jahit
kelurga Fikri menjadi dua lantai, lantai dua atau paling atas di gunakan untuk
tempat tinggal keluarga Fikri.
“Fik… apa enggak ada jalan lain selain harus
ngelewatin tongkrongan
anak-anak kelas tiga?”
“Ya memang harus lewat sini
Ci, kenapa loe takut ya?”
“I..iya… habis di sekolah kan mereka biang rusuh”
“Tenang selama ada Muhammad
Fikri semua aman”
“Hheee… percaya dech…”
Ketika kami melewati tongkrongan anak
kelas tiga aku merasa banyak sorot-sorot tajam yang menatap kami terutama Beni
yang merupakan pentolan geng, tetapi kami telah melewati mereka aku fikir semua
telah aman, tiba-tiba Beni berteriak
“Wah… ada pasangan serasi
lewat… namanya juga orang miskin
pacarannya sambil jalan kaki aduh… mesra
banget sih…”
“Cuekin aja ya Ci…” Fikri
mengatakan itu ketika telah jauh melewati beni
agar aku tidak terbawa emosi mendengar ejekan
Beni
“Iya… tapi biasanya emang
selalu gitu kalau loe lewat sini?”
“Iya Ci mau gimana lagi,
ini satu-satunya jalan menuju rumah gue”
Setelah selesai mengambil baju yang
dijahit ibunya Fikri, aku segera pulang menuju rumah tapi sebelumnya mampir
dahulu ke supermarket dekat komplek.
Caci menenteng begitu
banyak kantung plastik putih yang sebagian besar berisi bahan makanan dan
barang-barang lainnya, dengan tertati-tati Caci melewati taman dekat rumahnya
agar cepat sampai tapi anggapannya meleset disana telah terparkir mobil bak
terbuka yang berisi lemari-lemari dan perabotan rumah tangga lain-nya tentu
Caci sedikit kesal karena jalan-nya terhalang, sesaat “brukkkk….” Barang-barang
bawaan Caci sebagian terjatuh namun yang paling kasihan adalah orang yang Caci
tabrak, kardus orang itu terjatuh otomatis barang-barang dalam kardus itu
tumpah semua, Caci tahu ia salah, maka sambil merapihkan barang-barang itu Caci
minta maaf.
“Sorry… gue yang enggak
sengaja, maaf”
Caci pun menatap pria yang berada
dihadapannya dan sedikit terpanah hingga Caci tidak sadar masih memegang barang
milik pria itu, pria itu pun mengambilnya dari Caci dan dengan tatapan sinis ia
meninggalkan Caci yang masih terdiam terpanah.
“Eh… maafin gue, jangan
diem aja dong, jangan buat gue semakin bersalah”
Pria itu masih terdiam Caci pun mengekor
dibelakangnya
“Eh… loe baru ya tinggal
disini? eh tetangga baru jangan diem aja”
Pria itu hanya diam dan masuk rumah yang
berada disebelah rumah Caci dan meninggalkan Caci.
Ya ampun… dia siapa, apa bener dia tetangga
baru gue, sumpah gue belum pernah liat cowok keren, putih, tinggi, bersih kaya
gitu tapi sayang sedikit jutek jadi penasaran dia siapa. (celoteh Caci dalam
hati)
Caci terus tersenyum sendiri entah apa
yang membuatnya segembira itu dan sepertinya Caci tidak dapat menggambarkannya.
***
Sore ini kami semua berkumpul di meja
makan, hari ini tante Bebie memasak daging ayam sambal balado, tumis kangkung,
dan sambal goreng tidak ketinggalan pula puding cokelat kesukaan ku dan aneka
buah-buahan, rasanya ada yang aneh pada tante hari ini karena tidak biasa tante
ku masak sebanyak ini dan menyediakan makanan pencuci mulut.
“Tumben hari ini tante
masaknya banyak banget?”
“Hari ini cafe tutup lebih
awal jadi tante sempet masak segini banyaknya”
Terlihat om Hans sangat menikmati makanan
malam ini, begitu juga para sepupu ku begitu lahap menyantap semua yang ada di
meja makan.
“Oy bu di sebelah rumah kita sekarang sudah
tidak kosong lagi ya?”
Tanya om Hans pada tante bebie.
“Iya… mereka baru pindah tadi siang”
Tepat enggak salah lagi yang tadi siang
aku lihat adalah tetangga baru ku (dalam hati caci)
“Terus tante udah kenalan
sama mereka belum?”
“Tadi sore mereka kesini
pas kamu mandi dan mereka semua ramah”
“Masa sih… cowok itu
ramah?” Caci berbicara sendiri dengan
suara kecil
tanpa ia sangka ternyata tantenya mendengar.
“Cowok yang mana?”
“Oh… enggak tan… memang
disana tinggal beberapa orang tan?”
“Tante kurang tahu, pas
tadi sore tetangga baru kita (Jeng Tiwi) kemari
dia bawa kedua anaknya, yang anak pertama
cowok sepertinya
dia seumuran dengan kamu dan yang satu lagi
anak prempuan yang
seumuran sama Ima”
“Oh… ayah jadi pengen
kenalan, siapa tahu jadi punya teman main catur
atau teman ngobrol”
“Tapi jeng Tiwi bilang suaminya
lagi dinas keluar kota ”
“Memang suaminya bekerja di perusahaan apa
bu?”
“Mana ibu tahu masa baru
kenal sudah banyak tanya-tanya”
“Terus apa tante tahu,
siapa nama anaknya tante Tiwi?
anak-nya itu tinggi, putih, bersih bukan?”
Caci berusaha menjelaskan
“Wah ada apa ini, ko Caci
mau banyak tahu gitu” Selidik om Hans yang sedikit curiga.
“hheee… enggak ko om, Caci
cuma mau tahu aja”
“Tante enggak sempet
kenalan tadi, habis anaknya jeng Tiwi yang pertama
setelah salaman enggak masuk dulu langsung
pulang”
Hemmm… jadi penasaran, jadi pengen tahu
dia siapa (Ucap Caci dalam hati).
Setelah selesai makan Caci membantu tante
bebie merapihkan meja makan sedangkan ketiga sepupu Caci tengah asik mewarnai
buku bergambar diruang tengah, bersama om Hans yang sedang menyaksikkan Topik
Petang, Om Hans memang sangat gemar menyaksikkan berita, apalagi jika ada acara
debat di televisi pasti orang di rumah ini yang paling heboh adalah beliau,
jika berdebat dengannya tidak akan ada habisnya karena om Hans ini sangat
kritis dan sedikit ulet serta tekun dalam menyikapi masalah dan persoalan yang
terjadi di sekitar kita mungkin hal ini juga yang mampu membuat usahanya sukses.
Volume televisi dibesarkan
oleh om Hans hingga suaranya terdengar dengan jelas sampai dapur.
“Setelah pembacaan vonis
bersalah pada pengusaha Terry Winto Orlando dengan tuduhan pembunuhan, tidak
terlihat keluarga Terry yang menemani pembacaan sidang yang dilakukan kemarin
siang, hal ini semakin menguatkan bahwa sang pengusaha tersebut bersalah, dan
sumber terdekat kami mengatakan istri dan anak Terry telah pergi keluar negeri
untuk menghindari pemburu berita dan kasus ini membuat nama pengacara Antono
Julius, S.H. menjadi melambung karena dapat memenangkan kasus client-nya”. Seketika televisi mati,
karena remote televisi menjadi rebutan Kiki dan Iki.
“Aduh sayang… jangan dibuat
mainan matikan televisinya ayah kan
lagi
lihat beritanya”
“Kasian yah Ci… anak sama
istri pengusaha itu pasti mereka sangat
terpukul” Tante ku ikut mengomentari berita
tadi sambil membersihkan
meja makan
“Tapi mereka bukan keluarga
yang baik”
“Maksud kamu?”
“Kalau aku jadi anaknya aku
enggak mungkin biarin ayah aku menderita
sendiri dan akan ada di sidang itu nemenin
ayah aku, biar gimana pun dan
kondisi apa pun kita harus tetap bangga sama
orang tua kita dan untuk
apa tante kasihan sama mereka, mereka itu
orang kaya tan, di luar negeri
sana bisa saja mereka membangun usaha baru
atau apa pun, kekayaan
mereka lama habisnya jadi untuk apa kita
empati sama mereka”
“Hemmm… memang menurut kamu
itu semua benar atau salah?”
“Aku kurang ngikutin berita
tan, tapi dari sikap keluarga mereka kaya
ngegambarin kalau itu semua benar”
“Wah…wah… keponakan tante
ini lama-lama ketularan om-nya nich jadi
kritis dalam memberikan analisis-nya”
“Hheee…” Caci tertawa
sambil mengeringkan piring-piring yang telah
dicucinya tadi
“Oy… Ci, apa benar anak dari pengacara yang namanya
disebutkan dalam
berita tadi satu sekolah sama kamu?”
“Iya… benar, tante tahu
dari mana?”
“Banyak yang bilang sama
tante, wah… hebat ya kamu bisa satu sekolah
sama anak pengacara yang namanya lagi
melambung itu”
“Apanya yang hebat tan, dia
itu anaknya suka bikin onar disekolah
pokoknya timpang banget sama ayahnya yang
seorang pengacara”
“Tapi kelihatannya orangnya
baik, cakep juga untuk anak seumuran kamu,
kamu deket enggak sama dia disekolah?”
Caci tak menjawab, karena menurutnya malas
sekali jika membicarakan
Ben dan mengingat hinaan dia tadi siang pada
ku, dan Caci tak ingin
melihat tantenya bersedih karena keponakannya
lebih sering menerima
Ejekan dari anak-anak sok elit.
“Kalau enggak salah namanya Beni Putra Julius kan ?”
“Loh… kok… tante tahu juga
nama lengkapnya?”
“Iya… Tante pernah lihat
dia sama kakaknya di infotaiment,
kakaknya
seorang model yang tengah di gosipin sama
aktor film itu kan ?”
“Yah… tante sibuk-sibuk
sempet juga nonton infotaiment”
“Yah… cari hiburan juga Ci,
pusingkan sibuk di cafe terus, sama ngurus
anak-anak
dan rumah”
Aku hanya tertawa mendengar jawaban polos
dari tante ku.
Pagi ini terasa begitu cepat berlalu, aku
berfikir apa tidak bisa waktu berhenti sejenak, karena pagi ini aku telat
bangun dan bajaj ini terasa lama sekali berjalan padahal tante sudah
membangunkan ku seperti biasa tapi entah mengapa aku sulit untuk membuka mata
ku, mungkin karena semalam aku menyicil untuk belajar fisika untuk ulangan esok
hari, untung pagi ini Ima berangkat ke TK lebih awal kalau tidak pasti akan
telat juga.
Kini jalan di ibu kota menuju sekolah ku
macet, rasanya semakin lengkap penderitaan ku pagi ini……… huuffff.
Dengan nafas terengah-engah
aku sampai di depan gerbang sekolah, aku fikir langkah ku akan mudah ternyata…
sial penjaga gerbang ini seperti penjaga pintu neraka walau aku tidak tahu
seperti apa rupa dan bentuk sesungguhnya, hhee
Penjaga sekolah atau
tepatnya satpam sekolah ini langsung menghadang ku seluruh anak di sini tahu
betul jika telat tidak akan bisa masuk jika telah di hadang oleh satpam ini.
“Heh…..! mau kemana kamu!”
“Eee… anu… ee… maaf pak
hari ini saya telat”
“Tidak usah minta maaf
sekarang juga kamu kembali pulang!!!”
Aku sedikit tercengang mendengar semuanya
tidak mungkin aku pulang lagi, perjuangan ku di bajaj dan terjebak macet tadi
akan terasa sia-sia jika aku harus kembali pulang. Sesaat ketika asa ku nyaris
pupus dan tidak ada harapan apapun, seorang pahlawan kesiangan menjadi pembela
ku dan tanpa banyak membuang waktu, aku dapat masuk gerbang sekolah tanpa harus
bersusah payah memohon pada satpam garang dan ganas itu yang menatap ku bagai
mangsanya yang paling lezat.
Tapi apa kalian tahu siapa
pahlawan kesiangan ku pagi ini?
Dan ini sulit untuk
dipercaya seorang Ben pentolan geng disekolah ini yang menolong ku untuk bisa
masuk padahal beberapa waktu lau dia yang mengejek ku ketika melewati tempat
tongkrongannya.
“Ko tumben pagi ini telat?”
Ben membuka suaranya
“Bangunnya kesiangan” Jawab
ku singkat dan sedikit malas karena ini tidak seperti biasanya seorang Ben mau
bicara dengan ku apalagi dia dan teman-temannya sama sekali paling anti bicara
pada kami yang lebih sering mereka pandang sebelah mata.
Ketika aku akan melangkah
meninggalkannya tiba-tiba Ben memegang bahu ku,
“Temuin gue setelah pulang
sekolah nanti di taman belakang sekolah” Ben berbisik pada ku sebelum ia pergi
meninggalkan aku, aku sedikit tercengang mendengar itu dan jujur sedikit takut,
aku takut apa yang dia lakukan pagi ini ada maksud tertentu.
Aku berjalan begitu cepat
melewati koridor kelas yang sangat sepi karena pelajaran telah berlangsung
namun tiba-tiba langkah ku terhenti di depan toilet pria karena aku melihat
sesosok pria bertubuh tinggi, putih dan sepertinya aku tidak asing dengan
sesosok itu hingga aku berhenti di toilet pria berharap pria itu cepat keluar
dari toilet karena sepertinya mengenal sesosok asing di sekolah ku yang belum
pernah aku temui sebelumnya, tetapi sesosok itu pernah ku temui tepatnya
seperti tetangga baru ku, karena ingin rasa penasaran ku terjawab aku menunggu
tapi betapa sialnya, ternyata sang satpam garang itu tengan berkeliling.
“Kamu……..!!! sudah telat
masih berkeliaran disini, apa mau saya lapor ke
kepala sekolah?” bentak sang satpam
“Eh… ja… jangan pak, iya
saya masuk sekarang”
“Cepat masuk sana !”
Tanpa menunggu teriakan satpam sekolah, aku
segera berlari kecil menuju para anak tangga karena kelas ku yang terletak di
lantai dua, ada rasa penasaran yang dalam karena belum terjawab rasa penasaran
ku namun sudah di usir sang satpam, aku memang tahu aku yang salah sudah telat
malah masih punya nyali untuk berkeliaran.
“Emm… misi bu… maaf saya
telat”
“Ya sudah silahkan masuk”
Pagi ini di jam pertama adalah jamnya bu wiwid
guru bahasa Indonesia yang masih muda dan aku juga punya catatan baik dengan bu
wiwid, mungkin ini salah satu alasan kenapa aku dapat mengikuti pelajaran.
“Ya ampun Caci… ko bisa
hari ini telat banget” Sapa Ado yang duduk tepat
di belakang ku
“Iya Do tadi pagi telat
bangun”
“Memang enggak ada yang
bangunin elo” timpal Fikri yang duduk di
sebelah Ado
“Kalau enggak di bangunin
enggak mungkin gue jalan ke sekolah”
“Apa Caci mau di jemput
besok biar enggak telat?” ucap Ado
sedikit manis
“Ehemmm….” Sindir Fini dan
Fikri agak bersamaan
“Ko perhatian banget sih…
padahal rumah gue kan
lebih jauh dari pada
Caci”
“Iya entar enggak ada yang
ngabisin nasi uduk buatan nyokap gue setiap
pagi, kalau loe mampirnya ke rumah Caci”
“Wah… pada sirik aja loe,
iya besok gue jemputin elo satu-satu biar adil,
puasssss…”
Aku
hanya tersenyum mendengar ocehan para sahabat ku sebelum akhirnya memperhatikan
pelajaran namun lagi-lagi fokus ku terbagi karena sesosok pria tinggi, putih
yang tadi ku lihat di toilet pria memasuki kelasku, aku fikir dia salah masuk
kelas tapi pria itu terus berjalan dan semakin dekat sampai akhirnya pria
bertubuh tinggi dan putih itu melewati bangkuku dan terduduk di bangku belakang
yang tak berpenghuni sejak lama atau lebih tepat diantara para wanita, aku
yakin bahwa dia adalah tetangga baruku, aku terus menatapnya sampai akhirnya
aku bertanya pada Fini.
“Fin… cowok itu siapa?”
“Oiya… dia anak baru dan
dia penghuni kelas paling pertama pagi ini
sebelum anak-anak yang lain datang”
“Kok gue enggak tahu?”
“Ya iyalah orang hari ini
loe telat”
“Siapa namanya?”
Belum pertanyaan ku terjawab tiba-tiba bu
Wiwid memanggil ku ketika aku masih mengamati anak baru yang duduk di belakang
tidak begitu jauh dari tempat ku karena aku yakin dia adalah tetangga baru ku,
aku yang begitu terkejut dan memang dari tadi tidak memperhatikan pelajaran
mungkin membuat bu Wiwid ingin mengajukan pertanyaan kepada ku.
“Sezheci Percia tolong kamu
sebutkan satu pengarang puisi favorit kamu”
“Kahlil Gibran” aku kira
pertanyannya akan sulit ternyata mudah, tapi
ternyata aku keliru pertayan bu Wiwid belum
berakhir sampai di situ.
“Bagus, sekarang kamu
bacakan karya Kahlil Gibran yang paling terkenal
atau yang paling kamu suka”
“Bila cinta meluluhkan
hatimu,
Ikutilah
dia, dekaplah
Walau jalannya senantiasa terjal dan……”
Tiba-tiba Caci tidak melanjutkan bait puisi
itu karena konsentrasinya sedikit terganggu, Caci melirik kebangku belakang
tempat anak baru itu duduk, konsentrasi Caci pun buyar.
Aduh…. Gawat puisinya
apalagi ya, gue lupa lagi (gerutu Caci dalam hati)
Tiba-tiba sesuatu
mengejutkan pelajaran di kelas ku karena anak baru itu melanjutkan bait puisi
yang belum selesai.
“Walau jalanya senantiasa
terjal dan berliku.
Menyerahlah pada kedalaman cinta,
Saat sayap-sayap cinta merengkuhmu
meski tersembunyi sebuah pedang di balik
sayap-sayap itu yang mampu
melukaimu”
Caci sungguh terkejut karena di kelas ini
hanya Caci yang terkenal paling jago membuat puisi dan merangkai kata-kata
indah, tentu seolah tak mau kalah Caci menantang dengan bait puisi yang lain,
masih dengan penyair yang sama hanya ingin mengetes sejauh mana anak baru ini
tahu.
“Musik cinta adalah bahasa
ruh
melodinya bagaikan hembusan angin yang
membuat dawai-dawainya
bergetar oleh kerinduan,
lalu ketika jari-jari cinta yang lembut mengetuk
pintu perasaan,
ia akan membangunkan kenangan lama yang
tersembunyi
di kedalaman cinta masa lalu”
“Pandangan pertamaku padamu
bukanlah dalam kebenaran yang pertama,
waktu di mana hati kita bertemu yang telah
menguatkan kepercayaanku
pada keabadian dan kekalan cinta”
Caci terdiam bukan karena kehabisan kata-kata
namun Caci merasa begitu terkesan bait puisi yang diucapkan anak baru itu
begitu romantis bagi caci dan mungkin sangat romantis jika di dengar oleh para
wanita lainnya, kemudian seolah tak ingin kalah dari anak baru dan Caci, Ado pun juga ikutan
nimbrung
“Hari ku begitu berarti
saat selalu ada didekat mu
Segalanya begitu indah ketika melihat senyum
mu
Ku genggam rasa cinta ini
Agar kau tahu cinta ku untuk mu abadi. Karya
Ado”
Sontak satu kelas tertawa mendengar Ado yang sedikit narsis.
“Sudah….sudah jangan ribut”
ucap bu Wiwid berusaha untuk menenangkan
“Yeh… emangnya enggak boleh
apa pamer karya sendiri” Satu kelas kembali ribut mendengar pembelaan Ado .
“Ibu sangat bangga dengan
bakat kalian
semua. Caci, Ado, dan kamu anak baru ibu akan
daftarkan kalian untuk
mewakili sekolah kita dalam pembacaan puisi
tingkat SMU, awalnya ibu
pesimis tapi ternyata murid-murid ibu ini
sangat berbakat hingga ibu
jadi sedikit berantusias”
*bersambung,hhee
Tidak ada komentar:
Posting Komentar