Selasa, 20 Maret 2012

frist love


PROLOG
                                                                                
     Sudah dua tahun lamanya namun tidak ada yang berubah dari tempat ini, seorang wanita yang bertubuh tinggi langsing dan berambut panjang terurai dengan wajah yang teduh, memandang sebuah taman kecil.
menatap ini semua membuat wanita itu menjadi mengingat sebuah kenangannya dahulu ketika pertama kali mengenalnya, seorang pria yang sungguh di kaguminya hingga membuatnya tampak bodoh, menunggu sebuah kepastian yang tak jelas ujungnya, bahkan tidak sedikit pun ia menggubris rasa ingin tahuku akan sosoknya, dia (pria itu) begitu dingin dan kasar bahkan pemarah namun sebetulnya ia sangat kesepian dan lemah, hal itulah yang membuatku ingin mengenalnya walau begitu banyak sesuatu yang tersimpan dalam fikirannya, seolah kehidupannya hanya dia seorang yang tahu.

      Wanita itu melihat  gundukan tanah merah yang telah ditumbuhi rerumputan hijau, ia tersenyum kecil dan mengambil selembar foto dari tasnya. Kenangannya melayang ke saat-saat SMA dulu,  delapan anak yang terdiri dari 4 anak wanita dan 4 anak laki-laki berfose dibalai kesenian saat mengikuti lomba puisi, semua tertawa penuh kegembiraan hanya sepasang mata teduh dari sosok anak laki-laki berbadan putih tegap yang menatap kamera dengan tegas dan serius.
Dasar orang bodoh (gumam hati kecil wanita itu).
  
     Setelah usai memandangi selembar foto itu, ia membuka folder lama di HP-nya, di pandanginya sejumlah foto ketika berlibur ke pantai di daerah Jogja bersama teman-temannya, semua yang ada di foto itu terlihat sangat senang dan bahagia tidak terkecuali sahabatku yang memakai kaca mata yang berdiri di sampingku.
Salah seorang temanku bahkan ada yang masih mengenakan sarung ketika foto itu di ambil, ada pula yang sok bergaya foto model, dengan gaya sok-cool  tidak menatap lensa kamera seolah-olah tidak tahu bahwa gambar dirinya telah diambil. Begitu banyak tawa dan canda saat itu, kebahagiaan dan kebersamaan begitu kental terasa.
Setelah puas mengenang dengan foto-foto lama, aku mengeluarkan sebuah liontin dengan inisial huruf “V”, terlihat di liontin itu ada foto dirinya bersama pria yang sangat di cintainya, yang membuatnya tampak bodoh masih saja menunggu.
Ia memejamkan matanya di bawah terik matahari dan hembusan angin dari pohon rindang di sebelahnya, membayangkan saat-saat mereka bersama, andai waktu berhenti sejenak ketika melewati detik demi detik bersamanya……

















SATU

“Teh… teh Caci…” . Terdengar suara Ima memanggil Caci yang tengah bersiap didepan cermin untuk segera berangkat ke sekolah.
Ada apa Ima?”
“Teteh di panggil ibu tuh, untuk sarapan pagi”
“Iya… tunggu sebentar ya…”.
   
      Nama ku Sezheci Percia, sedikit bingung ya dengan nama ku?
Jika ditanya apa artinya aku juga tidak tahu karena ketika membuat nama itu aku masih bayi yang tidak mengerti apa-apa, hhee…
agar mudah memanggil ku ibu menyingkat nama ku menjadi Caci dan aku sangat suka dengan nama ku karena saat orang mendengar nama ku pasti banyak yang mengerutkan kening, hheee
tapi jika mengingat ibu aku sedikit sedih membayangkan beberapa tahun silam yang merenggut nyawa kedua orang tua ku.
     Saat itu aku baru berusia delapan tahun ketika orang tua ku mengajak liburan ke daerah bogor, hari yang indah berubah menjadi sore yang kelam,  hujan terus mengguyur kota bogor membuat jalan menjadi licin dan mobil yang kami tumpangi tergelincir, naas mobil itu jatuh ke jurang. Namun dalam kecelakaan teragis itu aku selamat karena ku tengah tertidur tanpa sabuk pengaman di bangku belakang, namun nyawa kedua orang tuaku tidak dapat terselamatkan, aku terus menangis diantara kerumunan saksi mata yang datang mengrubung di tempat kejadian perkara tubuh mungil ku yang basah karena guyuran hujan juga terasa sangat perih dan sakit karena aku mengalami luka-luka di seluruh tubuh dan meninggalkan bekas luka di lutut ku hingga saat ini.
     Sejak kejadian itu aku di asuh dan di rawat oleh nenek ku yang rentan yang tinggal di kota Bandung, nenek merawat dan membesarkan ku seperti merawat anaknya sendiri, aku menamatkan sekolah dasarku di Bandung dan ketika SMP aku kembali tinggal di Jakarta, aku melewati masa-masa remaja ku bersama tanteku adik dari ibu ku dan sekaligus saudara yang aku punya, saat itu tante ku yang bernama tante Bebie baru menikah dan belum memiliki anak, mereka begitu senang dengan kehadiran ku karena usaha yang di rintis oleh om Hans berubah menjadi sebuah Cafe yang ramai dan tahun berikutnya tante Bebie di karuniai seorang putri yang bernama Risma Putri Hans (Ima), selang beberapa tahun tante Bebie melahirkan lagi, namun kali ini kebahagian om Hans terasa begitu lengkap karena beliau memiliki dua jagoan sekaligus atau tepatnya seorang putra kembar yang di beri nama Rizky Putra Hans (Kiki) dan Criski Putra Hans (Iki).

     kini aku baru berusia 16 tahun, aku duduk di bangku kelas dua SMA, SMA BUDI PEKERTI sebuah SMA yang cukup favorit dan tidak sebagian murid yang bersekolah disini adalah anak pejabat dan banyak juga para artis atau model yang bersekolah disini, awal-nya aku sedikit minder karena banyak dari mereka yang pulang pergi menggunakan mersi atau mobil-mobil mahal keluaran terbaru sedang aku hanya menggunakan bajaj atau kopaja, walau aku tahu semua yang mereka pamerkan hanyalah kekayaan orang tua mereka. Tetapi aku melihat tante dan om ku yang bekerja keras hanya demi aku yang bukan darah dagingnya, hal itulah yang memicu semangat ku untuk berprestasi di sekolah agar mereka bangga dan tidak kecewa pada ku.

      Aku segera menuruni anak tangga dan menghampiri tante ku yang tengah sibuk menyiapkan sarapan pagi di meja makan sambil menggendong Iki adik kembar Kiki, dan Ima yang mengenakan seragam TK-nya tengah menikmati segelas susu cokelat hangat.

“Tante manggil aku?”
“Iya, tolongin tante ya Ci, nanti setelah pulang sekolah kamu tolong
  mampir ke tukang jahit milik keluarga Fikri, beberapa waktu yang
  lalu tante jahit baju disana dan nanti tolong kamu ambil”
“Oh… oke tante”
“Oy… Ci tante minta tolong lagi ya, tante sibuk banget musti ke cafe,
  jadi habis dari tempat jahit baju kamu tolong belanja untuk bulan
  ini ya di supermarket di depan komplek?”
“Owh… sip tante, terus yang jaga Iki sama Kiki siapa?”
“Ya mau enggak mau tante ajak mereka berdua ke cafe”
“Aku mau izin aja dech, bantuin tante sama om biar enggak terlalu repot”
“Eh… enggak boleh..!!! kamu harus tetap pergi sekolah, udah jangan
  banyak mikir sana jalan, ini uang jajan kamu”

      Aku terdiam sesaat sebelum memasukan uang ku ke saku ku.
Ada apa Caci?”
“Kok uang jajan aku banyak amat, ini lebih sepuluh ribu?”
“Enggak apa-apa kan hari ini tante banyak minta tolong, sekarang cepat
  jalan nanti kamu sama Ima telat lagi”

     Aku hanya tersenyum kecil sebelum berpamitan sambil melihat uang jajan ku yang sedikit bertambah hari ini. Karena letak TK Ima dan sekolah ku searah jadi setiap pagi aku dan Ima pergi bersama dengan menggunakan bajaj dan tentu Ima sampai lebih dahulu di banding aku mungkin hal inilah yang membuat tante dan om merasa aman tidak harus mengantar Ima setiap pagi, sampai-sampai sopir bajajnya sudah hafal aku dan Ima berhenti dimana.

  “Wets… baru dateng sob?
    Loe tau enggak pagi ini gue udah malakin anak-anak kelas satu, gila
    tajir-tajir banget anak kelas satu yang sekarang beda sama yang dulu”
     Tetapi Beni tidak menjawab ucapan Edric, justru matanya sedang terpanah pada sesuatu yang berjalan menyusuri taman sekolah.
“Wah… konyol loe sob… gue ngomong dikacangin, liatin apa sih loe?”
   dan Beni pun baru tersadar telah mengacuhkan sahabat karibnya itu yang dari tadi telah berbicara sejak Beni datang.
“Hhaaa… sorry dech sob… lagian loe, gue baru dateng udah ngoceh aja kaya
  burung beo”.
“Seh… pagi-pagi udah nyari masalah…. Gue tahu sob apa yang bikin elo
  dari tadi nyuekin gue, loe liatin Caci yang baru turun dari bajaj kan?
  gue tau lagi sob elo suka kan sama dia dari dulu?”
 “Ah…!! Apa-apaan sih loe… jangan ngaur dech pagi-pagi, enggak mungkin
   gue suka sama cewek kaya gitu yang pulang pergi cuma naik bajaj
   sekolah aja ngandelin  Beasiswa”.
“Loe yakin sob sama apa yang loe omongin?”
“Iyalah…. Udah ahh…! Enggak penting bahas cewek itu pagi-pagi, cabut
  ke kelas yu! Belum buat PR nich gue…”

     Beni Putra Julius atau sering di panggil Ben, Ben ini adalah putra seorang pengacara yang tengah melambung namanya karena berhasil menjebloskan seorang pengusaha ke jeruji besi dengan tuduhan pembunuhan. Mungkin Ben bangga dengan segudang prestasi ayahnya, tapi apa ayahnya bangga dengan prestasi anaknya yang tidak lebih hanya seorang preman sekolah, yang hobinya malak, tidur di kelas, tauran dan masih banyak lagi yang pastinya meresahkan pihak sekolah padahal saat ini Ben sudah kelas 12 atau tepatnya kelas 3 SMU tentu harusnya Ben lebih fokus dengan UAN dan tidak mengurusi hal-hal yang tidak penting seperti itu, hal ini tentu timpang sekali dengan ayahnya yang seorang penegak hukum sedang anaknya adalah preman sekolah. Sedangkan pihak sekolah bungkam atas segala ulah dari Ben, bisa di bilang sedikit enggak adil, ya… apa lagi coba yang membuat enggak adil kalau bukan karena status ayahnya yang seorang pengacara.

“Eh… Caci baru datang?”
   Fini menyambut hangat kedatangan teman sebangkunya yang sekaligus sahabat karibnya, selain Fini adalah sahabat dekat Caci, Fini yang berkaca mata tebal ini juga paling jago kalau disuruh menghafal rumus-rumus Fisika, nyaris semua rumus dia hafal di luar kepala.
“Iya nich… untung hari ini enggak telat”
“Tadi naik bajaj atau naik kopaja?”
“Naik bajaj Fin, kan sekarang gue bareng sama Ima terus, enggak mungkin
  naik kopaja”
“Oh… iya bahaya juga kalau  bareng Ima naik kopaja”.

     Ketika kami tengah menggobrol tiba-tiba Muhammad Fikri (Fikri) dan Aldo Adiyatna (Ado) baru saja datang dan langsung duduk di bangku paling belakang atau tepatnya duduk dibelakang Caci dan Fini.
“Fin… nanti jangan pelit ya pas ulangan Fisika, gue enggak belajar
  sama sekali nich” ucap Fikri memohon pada Fini.
“Haahhh… memang ada ulangan Fisika???”
  Caci dan Ado sedikit bersamaan dan sedikit kaget, sedangkan Fini hanya tertawa kecil.
“Fikri-Fikri kapan sih sifat pelupa loe bisa sembuh”.
“Maksudnya Fin…?”
“Kita memang ada ulangan Fisika tapi lusa bukan hari ini, hari ini
  mana ada pelajaran Fisika”
“Haa??? serius loe….Gue salah bawa buku pelajaran dong” Fikri melonggo kaget.
  
    Kami semua tertawa bersama inilah para sahabat ku, ada Fini yang jago banget dalam pelajaran Fisika nyaris semua yang berbau Fisika pasti dia tahu, sedangkan Ado dia paling jago kalau disuruh main futsal selain itu sahabat ku yang satu ini sangat alim dia juga sangat aktif dalam kegiatan sosial dan keagamaan di sekolah ku, nah… kalau Fikri jangan di tanya pasti semua udah pada bisa tebak…… yup…sahabat ku yang satu ini sangat pelupa dan sedikit pikun contohnya kaya tadi tuh… salah bawa buku pelajaran ini sering dia lakuin jadi kita semua udah maklum, tapi kalau di suruh nyulam jangan di tanya Muhammad Fikri jagonya mungkin karena di keluarganya hanya dia dan ayahnya yang laki-laki sisa-nya kakak dan adik-adik-nya prempuan semua, mungkin karena ibunya adalah seorang penjahit jadi mau enggak mau dia harus bisa, jika sewaktu-waktu dia menggantikan pekerjaan ibunya sebagai penjahit. Apapun itu aku bangga dengan para sahabat ku.
     Kami duduk di bangku dua dari belakang tempat yang paling pas untuk kami karena bangku-bangku paling depan telah dihuni oleh kalangan-kalangan yang hobi-nya paling pamer kekayaan orang tuanya, kami berempat juga telah biasa mendapat hinaan dari mereka semua, dan tak ada satu orang pun dikelas ini yang mau bicara pada kami berempat.
dan inilah kami berempat yang tersesat diantara ketidak adilan dan keglamouran orang-orang yang menganggap satu sama lain berbeda dan dirinya yang paling sempurna bahkan satu sama lain dapat saling menusuk dan menjatuhkan, inilah masa-masa SMA yang harus kami lalui.

     Hari ini tidak ada yang menarik disekolah semua datar pelajaran sekolah juga biasa saja dan hitungan detik bel sekolah pun berbunyi hari ini bel sekolah sepertinya diganti tidak seperti kemarin bunyinya seperti tukang es, hhii… tapi tak biasanya juga aku memperhatikan bunyi bel seperti apa.

“Oya Fik… hari ini gue pulang bareng ya?”
“Tumben Ci?”
“Iya… gue disuruh ambil jahitan baju di tempat nyokap loe”
“Okelah… jadi punya temen pulang” aku dan Fikri pun melambai pada Fini dan Ado pertanda kami pulang terlebih dahulu.

     Rumah Fikri memang dekat dari sekolah setiap pergi sekolah dia memang selalu berjalan kaki maka dari itu siang hari ini kami juga berjalan kaki untuk menuju tempat jahit ibunya yang sekaligus rumah untuk keluarga Fikri, dahulu tempat jahit ibunya hanyalah sebuah tempat jahit yang sempit, karena keterampilan ibunya akhirnya keluarga Fikri merenofasi usaha keluarganya ini bahkan kini keluarganya telah dapat memiliki dua orang karyawan, karena banyak yang mempercayai baju-baju mereka dijahit, diperbesar, atau segala macam vermak disini bias, tetapi hanya vermak wajah disini yang tidak ada, hheee
Dan saat ini tempat jahit kelurga Fikri menjadi dua lantai, lantai dua atau paling atas di gunakan untuk tempat tinggal keluarga Fikri.

 “Fik… apa enggak ada jalan lain selain harus ngelewatin tongkrongan
   anak-anak kelas tiga?”
“Ya memang harus lewat sini Ci, kenapa loe takut ya?”
“I..iya… habis di sekolah kan mereka biang rusuh”
“Tenang selama ada Muhammad Fikri semua aman”
“Hheee… percaya dech…”
     Ketika kami melewati tongkrongan anak kelas tiga aku merasa banyak sorot-sorot tajam yang menatap kami terutama Beni yang merupakan pentolan geng, tetapi kami telah melewati mereka aku fikir semua telah aman, tiba-tiba Beni berteriak
“Wah… ada pasangan serasi lewat… namanya juga orang miskin
  pacarannya sambil jalan kaki aduh… mesra banget sih…”
“Cuekin aja ya Ci…” Fikri mengatakan itu ketika telah jauh melewati beni
  agar aku tidak terbawa emosi mendengar ejekan Beni
“Iya… tapi biasanya emang selalu gitu kalau loe lewat sini?”
“Iya Ci mau gimana lagi, ini satu-satunya jalan menuju rumah gue”

     Setelah selesai mengambil baju yang dijahit ibunya Fikri, aku segera pulang menuju rumah tapi sebelumnya mampir dahulu ke supermarket dekat komplek.
Caci menenteng begitu banyak kantung plastik putih yang sebagian besar berisi bahan makanan dan barang-barang lainnya, dengan tertati-tati Caci melewati taman dekat rumahnya agar cepat sampai tapi anggapannya meleset disana telah terparkir mobil bak terbuka yang berisi lemari-lemari dan perabotan rumah tangga lain-nya tentu Caci sedikit kesal karena jalan-nya terhalang, sesaat “brukkkk….” Barang-barang bawaan Caci sebagian terjatuh namun yang paling kasihan adalah orang yang Caci tabrak, kardus orang itu terjatuh otomatis barang-barang dalam kardus itu tumpah semua, Caci tahu ia salah, maka sambil merapihkan barang-barang itu Caci minta maaf.

“Sorry… gue yang enggak sengaja, maaf”
  Caci pun menatap pria yang berada dihadapannya dan sedikit terpanah hingga Caci tidak sadar masih memegang barang milik pria itu, pria itu pun mengambilnya dari Caci dan dengan tatapan sinis ia meninggalkan Caci yang masih terdiam terpanah.
“Eh… maafin gue, jangan diem aja dong, jangan buat gue semakin bersalah”
 Pria itu masih terdiam Caci pun mengekor dibelakangnya
“Eh… loe baru ya tinggal disini? eh tetangga baru jangan diem aja”
  Pria itu hanya diam dan masuk rumah yang berada disebelah rumah Caci dan meninggalkan Caci.
  Ya ampun… dia siapa, apa bener dia tetangga baru gue, sumpah gue belum pernah liat cowok keren, putih, tinggi, bersih kaya gitu tapi sayang sedikit jutek jadi penasaran dia siapa. (celoteh Caci dalam hati)
     Caci terus tersenyum sendiri entah apa yang membuatnya segembira itu dan sepertinya Caci tidak dapat menggambarkannya.

***
     Sore ini kami semua berkumpul di meja makan, hari ini tante Bebie memasak daging ayam sambal balado, tumis kangkung, dan sambal goreng tidak ketinggalan pula puding cokelat kesukaan ku dan aneka buah-buahan, rasanya ada yang aneh pada tante hari ini karena tidak biasa tante ku masak sebanyak ini dan menyediakan makanan pencuci mulut.
“Tumben hari ini tante masaknya banyak banget?”
“Hari ini cafe tutup lebih awal jadi tante sempet masak segini banyaknya”
  Terlihat om Hans sangat menikmati makanan malam ini, begitu juga para sepupu ku begitu lahap menyantap semua yang ada di meja makan.
  “Oy bu di sebelah rumah kita sekarang sudah tidak kosong lagi ya?”
   Tanya om Hans pada tante bebie.
 “Iya… mereka baru pindah tadi siang”
      Tepat enggak salah lagi yang tadi siang aku lihat adalah tetangga baru ku (dalam hati caci)
“Terus tante udah kenalan sama mereka belum?”
“Tadi sore mereka kesini pas kamu mandi dan mereka semua ramah”
“Masa sih… cowok itu ramah?”  Caci berbicara sendiri dengan suara kecil
  tanpa ia sangka ternyata tantenya mendengar.
“Cowok yang mana?”
“Oh… enggak tan… memang disana tinggal beberapa orang tan?”
“Tante kurang tahu, pas tadi sore tetangga baru kita (Jeng Tiwi) kemari
  dia bawa kedua anaknya, yang anak pertama cowok sepertinya
  dia seumuran dengan kamu dan yang satu lagi anak prempuan yang
  seumuran sama Ima”
“Oh… ayah jadi pengen kenalan, siapa tahu jadi punya teman main catur
  atau teman ngobrol”
“Tapi jeng Tiwi bilang suaminya lagi dinas keluar kota
 “Memang suaminya bekerja di perusahaan apa bu?”
“Mana ibu tahu masa baru kenal sudah banyak tanya-tanya”
“Terus apa tante tahu, siapa nama anaknya tante Tiwi?
  anak-nya itu tinggi, putih, bersih bukan?” Caci berusaha menjelaskan
“Wah ada apa ini, ko Caci mau banyak tahu gitu” Selidik om Hans yang sedikit curiga.
“hheee… enggak ko om, Caci cuma mau tahu aja”
“Tante enggak sempet kenalan tadi, habis anaknya jeng Tiwi yang pertama
  setelah salaman enggak masuk dulu langsung pulang”
     Hemmm… jadi penasaran, jadi pengen tahu dia siapa (Ucap Caci dalam hati).

     Setelah selesai makan Caci membantu tante bebie merapihkan meja makan sedangkan ketiga sepupu Caci tengah asik mewarnai buku bergambar diruang tengah, bersama om Hans yang sedang menyaksikkan Topik Petang, Om Hans memang sangat gemar menyaksikkan berita, apalagi jika ada acara debat di televisi pasti orang di rumah ini yang paling heboh adalah beliau, jika berdebat dengannya tidak akan ada habisnya karena om Hans ini sangat kritis dan sedikit ulet serta tekun dalam menyikapi masalah dan persoalan yang terjadi di sekitar kita mungkin hal ini juga yang mampu membuat usahanya sukses.
Volume televisi dibesarkan oleh om Hans hingga suaranya terdengar dengan jelas sampai dapur.
“Setelah pembacaan vonis bersalah pada pengusaha Terry Winto Orlando dengan tuduhan pembunuhan, tidak terlihat keluarga Terry yang menemani pembacaan sidang yang dilakukan kemarin siang, hal ini semakin menguatkan bahwa sang pengusaha tersebut bersalah, dan sumber terdekat kami mengatakan istri dan anak Terry telah pergi keluar negeri untuk menghindari pemburu berita dan kasus ini membuat nama pengacara Antono Julius, S.H. menjadi melambung karena dapat memenangkan kasus client-nya”. Seketika televisi mati, karena remote televisi menjadi rebutan Kiki dan Iki.
“Aduh sayang… jangan dibuat mainan matikan televisinya ayah kan lagi
  lihat beritanya”
“Kasian yah Ci… anak sama istri pengusaha itu pasti mereka sangat
  terpukul” Tante ku ikut mengomentari berita tadi sambil membersihkan
  meja makan
“Tapi mereka bukan keluarga yang baik”
“Maksud kamu?”
“Kalau aku jadi anaknya aku enggak mungkin biarin ayah aku menderita
  sendiri dan akan ada di sidang itu nemenin ayah aku, biar gimana pun dan
  kondisi apa pun kita harus tetap bangga sama orang tua kita dan untuk
  apa tante kasihan sama mereka, mereka itu orang kaya tan, di luar negeri
  sana bisa saja mereka membangun usaha baru atau apa pun, kekayaan
  mereka lama habisnya jadi untuk apa kita empati sama mereka”
“Hemmm… memang menurut kamu itu semua benar atau salah?”
“Aku kurang ngikutin berita tan, tapi dari sikap keluarga mereka kaya
  ngegambarin kalau itu semua benar”
“Wah…wah… keponakan tante ini lama-lama ketularan om-nya nich jadi
  kritis dalam memberikan analisis-nya”
“Hheee…” Caci tertawa sambil mengeringkan piring-piring yang telah
  dicucinya tadi
 “Oy… Ci, apa benar anak dari pengacara yang namanya disebutkan dalam
   berita tadi satu sekolah sama kamu?”
“Iya… benar, tante tahu dari mana?”
“Banyak yang bilang sama tante, wah… hebat ya kamu bisa satu sekolah
  sama anak pengacara yang namanya lagi melambung itu”
“Apanya yang hebat tan, dia itu anaknya suka bikin onar disekolah
  pokoknya timpang banget sama ayahnya yang seorang pengacara”
“Tapi kelihatannya orangnya baik, cakep juga untuk anak seumuran kamu,
  kamu deket enggak sama dia disekolah?”
  Caci tak menjawab, karena menurutnya malas sekali jika membicarakan
  Ben dan mengingat hinaan dia tadi siang pada ku, dan Caci tak ingin
  melihat tantenya bersedih karena keponakannya lebih sering menerima
  Ejekan dari anak-anak sok elit. 
 “Kalau enggak salah namanya Beni Putra Julius kan?”    
“Loh… kok… tante tahu juga nama lengkapnya?”
“Iya… Tante pernah lihat dia sama kakaknya di infotaiment, kakaknya
  seorang model yang tengah di gosipin sama aktor film itu kan?”
“Yah… tante sibuk-sibuk sempet juga nonton infotaiment
“Yah… cari hiburan juga Ci, pusingkan sibuk di cafe terus, sama ngurus
   anak-anak dan rumah”
  Aku hanya tertawa mendengar jawaban polos dari tante ku.

     Pagi ini terasa begitu cepat berlalu, aku berfikir apa tidak bisa waktu berhenti sejenak, karena pagi ini aku telat bangun dan bajaj ini terasa lama sekali berjalan padahal tante sudah membangunkan ku seperti biasa tapi entah mengapa aku sulit untuk membuka mata ku, mungkin karena semalam aku menyicil untuk belajar fisika untuk ulangan esok hari, untung pagi ini Ima berangkat ke TK lebih awal kalau tidak pasti akan telat juga.
Kini jalan di ibu kota menuju sekolah ku macet, rasanya semakin lengkap penderitaan ku pagi ini……… huuffff.
Dengan nafas terengah-engah aku sampai di depan gerbang sekolah, aku fikir langkah ku akan mudah ternyata… sial penjaga gerbang ini seperti penjaga pintu neraka walau aku tidak tahu seperti apa rupa dan bentuk sesungguhnya, hhee
Penjaga sekolah atau tepatnya satpam sekolah ini langsung menghadang ku seluruh anak di sini tahu betul jika telat tidak akan bisa masuk jika telah di hadang oleh satpam ini.

“Heh…..! mau kemana kamu!”
“Eee… anu… ee… maaf pak hari ini saya telat”
“Tidak usah minta maaf sekarang juga kamu kembali pulang!!!”
 
     Aku sedikit tercengang mendengar semuanya tidak mungkin aku pulang lagi, perjuangan ku di bajaj dan terjebak macet tadi akan terasa sia-sia jika aku harus kembali pulang. Sesaat ketika asa ku nyaris pupus dan tidak ada harapan apapun, seorang pahlawan kesiangan menjadi pembela ku dan tanpa banyak membuang waktu, aku dapat masuk gerbang sekolah tanpa harus bersusah payah memohon pada satpam garang dan ganas itu yang menatap ku bagai mangsanya yang paling lezat.
Tapi apa kalian tahu siapa pahlawan kesiangan ku pagi ini?
Dan ini sulit untuk dipercaya seorang Ben pentolan geng disekolah ini yang menolong ku untuk bisa masuk padahal beberapa waktu lau dia yang mengejek ku ketika melewati tempat tongkrongannya.

“Ko tumben pagi ini telat?” Ben membuka suaranya
“Bangunnya kesiangan” Jawab ku singkat dan sedikit malas karena ini tidak seperti biasanya seorang Ben mau bicara dengan ku apalagi dia dan teman-temannya sama sekali paling anti bicara pada kami yang lebih sering mereka pandang sebelah mata.
Ketika aku akan melangkah meninggalkannya tiba-tiba Ben memegang bahu ku,
“Temuin gue setelah pulang sekolah nanti di taman belakang sekolah” Ben berbisik pada ku sebelum ia pergi meninggalkan aku, aku sedikit tercengang mendengar itu dan jujur sedikit takut, aku takut apa yang dia lakukan pagi ini ada maksud tertentu.

Aku berjalan begitu cepat melewati koridor kelas yang sangat sepi karena pelajaran telah berlangsung namun tiba-tiba langkah ku terhenti di depan toilet pria karena aku melihat sesosok pria bertubuh tinggi, putih dan sepertinya aku tidak asing dengan sesosok itu hingga aku berhenti di toilet pria berharap pria itu cepat keluar dari toilet karena sepertinya mengenal sesosok asing di sekolah ku yang belum pernah aku temui sebelumnya, tetapi sesosok itu pernah ku temui tepatnya seperti tetangga baru ku, karena ingin rasa penasaran ku terjawab aku menunggu tapi betapa sialnya, ternyata sang satpam garang itu tengan berkeliling.

“Kamu……..!!! sudah telat masih berkeliaran disini, apa mau saya lapor ke
  kepala sekolah?” bentak sang satpam
“Eh… ja… jangan pak, iya saya masuk sekarang”
“Cepat masuk sana!”
 Tanpa menunggu teriakan satpam sekolah, aku segera berlari kecil menuju para anak tangga karena kelas ku yang terletak di lantai dua, ada rasa penasaran yang dalam karena belum terjawab rasa penasaran ku namun sudah di usir sang satpam, aku memang tahu aku yang salah sudah telat malah masih punya nyali untuk berkeliaran.
“Emm… misi bu… maaf saya telat”
“Ya sudah silahkan masuk”
 Pagi ini di jam pertama adalah jamnya bu wiwid guru bahasa Indonesia yang masih muda dan aku juga punya catatan baik dengan bu wiwid, mungkin ini salah satu alasan kenapa aku dapat mengikuti pelajaran.

“Ya ampun Caci… ko bisa hari ini telat banget” Sapa Ado yang duduk tepat
  di belakang ku
“Iya Do tadi pagi telat bangun”
“Memang enggak ada yang bangunin elo” timpal Fikri yang duduk di
  sebelah Ado
“Kalau enggak di bangunin enggak mungkin gue jalan ke sekolah”
“Apa Caci mau di jemput besok biar enggak telat?” ucap Ado sedikit manis
“Ehemmm….” Sindir Fini dan Fikri agak bersamaan
“Ko perhatian banget sih… padahal rumah gue kan lebih jauh dari pada
 Caci”
“Iya entar enggak ada yang ngabisin nasi uduk buatan nyokap gue setiap
  pagi, kalau loe mampirnya ke rumah Caci”
“Wah… pada sirik aja loe, iya besok gue jemputin elo satu-satu biar adil,
  puasssss…”
     Aku hanya tersenyum mendengar ocehan para sahabat ku sebelum akhirnya memperhatikan pelajaran namun lagi-lagi fokus ku terbagi karena sesosok pria tinggi, putih yang tadi ku lihat di toilet pria memasuki kelasku, aku fikir dia salah masuk kelas tapi pria itu terus berjalan dan semakin dekat sampai akhirnya pria bertubuh tinggi dan putih itu melewati bangkuku dan terduduk di bangku belakang yang tak berpenghuni sejak lama atau lebih tepat diantara para wanita, aku yakin bahwa dia adalah tetangga baruku, aku terus menatapnya sampai akhirnya aku bertanya pada Fini.
“Fin… cowok itu siapa?”
“Oiya… dia anak baru dan dia penghuni kelas paling pertama pagi ini
  sebelum anak-anak yang lain datang”
“Kok gue enggak tahu?”
“Ya iyalah orang hari ini loe telat”
“Siapa namanya?”
     Belum pertanyaan ku terjawab tiba-tiba bu Wiwid memanggil ku ketika aku masih mengamati anak baru yang duduk di belakang tidak begitu jauh dari tempat ku karena aku yakin dia adalah tetangga baru ku, aku yang begitu terkejut dan memang dari tadi tidak memperhatikan pelajaran mungkin membuat bu Wiwid ingin mengajukan pertanyaan kepada ku.

“Sezheci Percia tolong kamu sebutkan satu pengarang puisi favorit kamu”
“Kahlil Gibran” aku kira pertanyannya akan sulit ternyata mudah, tapi
  ternyata aku keliru pertayan bu Wiwid belum berakhir sampai di situ.
“Bagus, sekarang kamu bacakan karya Kahlil Gibran yang paling terkenal
  atau yang paling kamu suka”
“Bila cinta meluluhkan hatimu,
  Ikutilah  dia, dekaplah
  Walau jalannya senantiasa terjal dan……”

  Tiba-tiba Caci tidak melanjutkan bait puisi itu karena konsentrasinya sedikit terganggu, Caci melirik kebangku belakang tempat anak baru itu duduk, konsentrasi Caci pun buyar.
Aduh…. Gawat puisinya apalagi ya, gue lupa lagi (gerutu Caci dalam hati)
Tiba-tiba sesuatu mengejutkan pelajaran di kelas ku karena anak baru itu melanjutkan bait puisi yang belum selesai.
“Walau jalanya senantiasa terjal dan berliku.
  Menyerahlah pada kedalaman cinta,
  Saat sayap-sayap cinta merengkuhmu
  meski tersembunyi sebuah pedang di balik sayap-sayap itu yang mampu
  melukaimu”

 Caci sungguh terkejut karena di kelas ini hanya Caci yang terkenal paling jago membuat puisi dan merangkai kata-kata indah, tentu seolah tak mau kalah Caci menantang dengan bait puisi yang lain, masih dengan penyair yang sama hanya ingin mengetes sejauh mana anak baru ini tahu.

“Musik cinta adalah bahasa ruh
  melodinya bagaikan hembusan angin yang membuat dawai-dawainya
  bergetar oleh kerinduan,
 lalu ketika jari-jari cinta yang lembut mengetuk pintu perasaan,
 ia akan membangunkan kenangan lama yang tersembunyi
 di kedalaman cinta masa lalu”

“Pandangan pertamaku padamu bukanlah dalam kebenaran yang pertama,
  waktu di mana hati kita bertemu yang telah menguatkan kepercayaanku
  pada keabadian dan kekalan cinta”
 
  Caci terdiam bukan karena kehabisan kata-kata namun Caci merasa begitu terkesan bait puisi yang diucapkan anak baru itu begitu romantis bagi caci dan mungkin sangat romantis jika di dengar oleh para wanita lainnya, kemudian seolah tak ingin kalah dari anak baru dan Caci, Ado pun juga ikutan nimbrung

“Hari ku begitu berarti saat selalu ada didekat mu
  Segalanya begitu indah ketika melihat senyum mu
  Ku genggam rasa cinta ini
  Agar kau tahu cinta ku untuk mu abadi. Karya Ado”
  Sontak satu kelas tertawa mendengar Ado yang sedikit narsis.
“Sudah….sudah jangan ribut” ucap bu Wiwid berusaha untuk menenangkan
“Yeh… emangnya enggak boleh apa pamer karya sendiri” Satu kelas kembali ribut mendengar pembelaan Ado.
“Ibu sangat bangga dengan bakat kalian
  semua. Caci, Ado, dan kamu anak baru ibu akan daftarkan kalian untuk
  mewakili sekolah kita dalam pembacaan puisi tingkat SMU, awalnya ibu
  pesimis tapi ternyata murid-murid ibu ini sangat berbakat hingga ibu
  jadi sedikit berantusias”

     Wajah anak baru itu tidak berekspresi sedikit pun malah sedikit dingin, apalagi ketika satu kelas menertawakan Ado anak baru ini hanya terdiam. Aku jadi semakin ingin tahu siapa anak baru ini, membuat ku semakin penasaran.
*bersambung,hhee 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar